Saturday, June 11, 2011

Pameran Ilustrasi Grafis Tionghoa “Cheng Li” (3 – 11 Juni 2011)

Yap Tiam Hien Memorial Lectures – Memahami Yap Thiam Hien: Bukan Asal Tionghoa! & Pameran Ilustrasi Grafis Tionghoa “Cheng Li” (3 – 11 Juni 2011)

Tempat: Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir No.31 Semarang
                               
Saat melewati kawasan Pecinan tersebut, sungguh luar biasa. Ada perasaan khusus karena saya jarang sekali melewati kawasan tersebut. Berjajar pertokoan dari ujung ke ujung, warung-warung makanan yang menggoda iman, klenteng dimana-mana dan bau hio disana sini.

Masuk ke Gedung Rasa Dharma, kita disambut perempuan tua yang menjaga meja tamu dengan santainya. Dia menyodorkan buku tamu dan 2 lembar brosur begitu saja, tanpa bicara. Kemudian hanya dengan mengarahkan jari telunjuknya ke atas, dia mengisyaratkan kami agar naik ke lantai 2 karena di sanalah diskusi sedang berlangsung.

Rupanya diskusi tengah berlangsung. Dan saya kembali merasa begitu takjub, orang-orang ini sedang membicarakan apa itu perjuangan HAM, apa itu rasisme, apa itu keberagaman dan apa itu pluralitas. Bertolak dari inti pembicaraan yaitu seorang tokoh bernama Yap Thiam Hien, mereka sepakat untuk menjunjung tinggi pembelaan HAM dan ikut andil di dalamnya. Dimana para narasumber menjadi pemantik api bagi kaum yang selalu diidentikkan oleh masyarakat  dengan “dagang melulu”. Yap Thiam Hien sebagai triple minoritas (minoritas suku = tionghoa, minoritas agama = kristen, minoritas moral = jujur) menjadi sosok yang gerakannya sedikit banyak dijadikan inspirasi oleh kaum tionghoa pada khususnya untuk turut andil dalam upaya-upaya memperjuangkan hak asasi manusia.

Di lantai bawah terdapat pameran ilustrasi grafis karya tionghoa yang berkembang di Indonesia dari tahun 1930-an sampai 1960-an. Ilustrasi grafis yang dipamerkan adalah gambar-gambar ilustrasi yang pernah dicetak untuk cover buku, koran, komik, iklan komersial dsb. Konon untuk mengumpulkan karya-karya tersebut tidak mudah karena banyak karya yang telah dibumihanguskan oleh pemiliknya karena takut ditangkap penguasa Orde Baru pada waktu itu.

Membuat terpukau ketika melihat komposisi warna dan edjaan katanja jang soenggoeh sangat djadoel (baca: klasik itu keren).

Berikut beberapa karya yang dipamerkan: 






  


IMAJINASI ADALAH ENERGI #1



Tidak ada pembebasan, di manapun, kecuali kita menciptakannya.

Pun di sebuah ruang yang sering dinamakan pembebasan bernama “Seni”. Omong kosong katanya di dalam seni terdapat pembebasan. Di saat menemukan istilah standarisasi, komersialisasi, bagus/tidak bagus dan tetek bengek lainnya yang sungguh memuakkan.

Saat kita mau bebas, kita sendiri yang membuatnya, di manapun itu. Ketika ruang-ruang yang ada di sekitar tidak mampu lagi menampung esensi “pembebasan” yang sesungguhnya, maka menciptalah.

“Imajinasi adalah Energi” adalah suatu start yang indah dari Universum Collective dimana tembok-temboknya bergelantungan karya-karya yang mayoritas tidak peduli dengan opini orang. Dimana berkarya ya "ber-kar-ya". Dimana banyak karya egois yang subjektif khas kreatornya. Syarat pesan dan memprovokasi yang melihat untukk melakukan hal yang sama. Toh garis yang bergaris-garis akan indah, titik yang luntur akan menjadi gradasi yang cantik. Kemudian “usaha pembebasan” ini ingin sekali dilanjutkan.

Tanggal 20 Mei 2011 event ini dibuka dengan pementasan teater Tjerobong Paberik dari Bandung yang menyajikan gambaran terkini negara dengan iringan bebunyian dari alat musik tradisional Jawa Barat. Kemudian ada pula pementasan teater dari Openg sama satu orang lagi saya lupa namanya. Di hari berikutnya ada penampilan musisi noise gokil yang senang menyembunyikan wajahnya dibalik topeng, Dead Ra. Anda akan melupakan topengnya karena konsentrasi anda akan terhisap oleh apa yang dimainkannya. Ada pula trio Openg, Purna dan satu lagi saya tetep nggak ingat namanya (maaf!) membawakan High & Dry-nya Radiohead secara akustik. Keren...

Ditunggu sekali “Imajinasi adalah Energi” episode ke-2 ;)

 
*photos by andi fitriono


 

blogger templates | Make Money Online