Showing posts with label FILM. Show all posts
Showing posts with label FILM. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

Film: "Nausicaa of the Valley of the Wind" (1984)





Judul: Nausicaa of the Valley of the Wind
Ditulis dan disutradarai oleh: Hayao Miyazaki
Tahun produksi: 1984

Pantes aja kalau Nausicaa of the Valley of the Wind telah direkomendasikan oleh WWF.

Nausicaa merupakan anak perempuan pemimpin Valley of The Wind, salah satu daerah yang bertahan dari kondisi bumi yang makin beracun dan tidak aman bagi makhluk hidup, kecuali jenis serangga dan kawanan jamur/lumut.

Hutan telah dikuasai oleh serangga dan jamur karena mereka marah terhadap manusia yang terus menerus merusak bumi. Ohmu sebagai serangga yang paling kuat menjadi lini depan yang sangat mematikan bagi manusia-manusia yang berusaha mengganggu pertahanan serangga di dalam hutan. Serangga dan jamur membentuk pertahanan dengan mengeluarkan racun sehingga manusia tidak akan mudah memasuki hutan.

Nausicaa berbeda dengan manusia yang lain, yang memusuhi kawanan serangga. Manusia merasa serangga telah mengambil alih kuasa bumi. Namun, Nausicaa selalu menghargai dan memperlakukan serangga layaknya makhluk hidup yang sudah semestinya harus dikasihi.

Hingga tiba saatnya monster ciptaan musuh telah lahir. Monster itu diperintah untuk menyerang kawanan serangga, terutama menyerang Ohmu. Anak-anak Ohmu ditembak oleh tentara musuh. Ohmu marah, bola matanya berubah merah. Ratusan bahkan mungkin ribuan Ohmu menyerang penduduk. Serbuan Ohmu di anime ini mengingatkan dengan scene penyerangan kawanan roh babi hutan di Mononoke. 

Tetapi karena Ohmu bisa membaca jiwa Nausicaa yang ingin semua makhluk hidup berdampingan dengan damai dan tidak menyakiti satu sama lain, Ohmu akhirnya menurunkan amarahnya. Ohmu kembali ke hutan dengan damai. Penduduk bahagia dan takjub dengan perjuangan Nausicaa yang sampai titik terakhir tidak menggunakan kekerasan untuk menghalau Ohmu.

Film ini khas banget anime Studio Ghibli: menonjolkan karakter utama perempuan yang kuat, tidak memerlukan pahlawan/pangeran ganteng untuk menyelamatkan tokoh utama, ada benda-benda terbang, banyak menunjukkan gulungan awan, tokoh antagonis yang memiliki sisi baik dan dedikasi Ghibli untuk promote kesetaraan gender dan menyelamatkan alam.

Tapi kali ini saya ngga melihat gulungan awan-awan khas Miyazaki-sama yang realis dan romantis (halah hehe), padahal Miyazaki-sama menyutradarai anime ini. Mungkin pertimbangan bumi waktu itu lagi rusak kali ya, sehingga awan dijadikan representasi betapa buruknya keadaan bumi. ‪#‎cmiiw‬

Must watch! 


pictures from: 
http://www.mangauk.com
http://geekynerfherder.blogspot.co.id/2012/08/movie-poster-art-nausicaa-of-valley-of.html


Friday, January 1, 2016

Serial Televisi: "Gangaa" (2015)



Judul Serial: Gangaa

Tahun: 2015

Negara: India

Ditayangkan oleh: SCTV
Jadwal tayang: Senin - Jumat pukul 12.30 WIB

Beberapa temen ngetawain karena saya mulai ngikutin sinetron India "Gangaa" di SCTV hehehe... XD~

Diceritakan mengenai seorang anak perempuan bernama Gangaa dari kasta Sudra yang harus mengikuti adat istiadat untuk dinikahkan pada usia 5 tahun. Kemudian orang tua dan suami Gangaa meninggal, sehingga dia harus menerima triple status minoritas yaitu kasta rendah, yatim piatu dan janda kecil.

Mendapatkan status sebagai janda di India sangat sulit, mereka akan dikucilkan oleh masyarakat. Ada kepercayaan warga setempat bahwa apabila di pagi hari mereka melihat janda maka kehidupan mereka akan sial selamanya. Janda diwajibkan memakai kain sari putih dan dilarang memakai perhiasan supaya dapat dibedakan dengan perempuan yang belum menikah dan dengan perempuan yang masih bersuami.

Janda dari kasta Sudra akan jauh lebih menderita karena tidak hanya dikucilkan oleh masyarakat tetapi mereka juga tidak boleh menikah lagi, tidak dapat melanjutkan sekolah dan apabila meninggal tidak dikebumikan dengan layak.

Dari ketidakadilan yang dialaminya, Gangaa berusaha untuk lepas dari adat yang menyengsarakan kaum perempuan seperti dirinya. Gangaa memang bukan tokoh nyata tapi serial ini menceritakan betapa buruknya adat istiadat yang tidak berlaku adil kepada perempuan dan anak-anak. Dari suatu sumber yang saya baca, ada istiadat ini masih dirasakan beberapa kasta di India.

Saya ngga tahu endingnya seperti apa, moga-moga tetep edukatif seperti beberapa episode yang sudah ditayangkan.

Layak tonton lah sinetron India ini ;)

Tuesday, December 29, 2015

Film: "Iron Jawed Angels" (2004)




IRON JAWED ANGELS
Produksi: HBO Films
Tahun: 2004
Sutradara: Katja von Garnier

Film ini memberikan gambaran seperti apa pergerakan feminisme gelombang pertama di Amerika. Isu yang diusung waktu itu adalah hak pilih perempuan dan isu hak tenaga kerja perempuan. Mereka begitu gencar memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam pemerintahan. Hal ini menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada pembentukan kebijakan yang tidak lagi diskriminatif.

Bayangkan, pada waktu itu pembuat kebijakan semuanya laki-laki, perempuan diprovokasi untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, perempuan kelas menengah diarahkan untuk menjadi ignoran dan tidak perlu mendukung gerakan, buruh perempuan mendapatkan gaji lebih rendah daripada buruh laki-laki, bahkan sampai fasilitas mendasar seperti tangga darurat kebakaran pun tidak disediakan di tiap-tiap pabrik.

Proses gerakan penuh dengan dinamika. Sesama aktifis perempuan saling tidak percaya. Sesama perempuan saling menjegal demi mendapatkan kedudukan politik. Timbul rasa pesimis apakah keterwakilan perempuan di pemerintahan akan berpengaruh ke kesejahteraan masyarakat. Belum lagi diskriminasi rasial di Amerika yang menahun membuat feminist kulit hitam sempat meragukan ketulusan feminist kulit putih. Hingga pada akhirnya solidaritas terbangun. Yeah, politic sucks tapi film ini memberikan gambaran yang sangat informatif dan menarik mengenai perjuangan para feminist dalam upaya pembentukan kebijakan atau aturan hukum yang adil bagi semua orang tanpa kecuali.

Dua pemeran utama dalam film ini yaitu Alice Paul diperankan oleh Hilary Swank dan Lucy Burns yang diperankan oleh Frances O’Connor merupakan feminist muda yang rebel, kreatif, ekspresif dan ngga pernah takut terhadap apapun bahkan menentang “feminist senior”. Alice sempat berkata bahwa dia ngga mau melawan sesama perempuan tapi keadaan jadi semakin sulit karena feminist muda terus ditekan oleh kaum konservatif. Alice dan kawan-kawan memilih lepas dan mendirikan NWP (National Woman’s Party).

Hal menarik lainnya, mungkin hal ini juga sempat dialami oleh perempuan yang berjuang di isu feminisme yaitu persoalan menghadapi percintaan dan masalah personal. Lucy ingin menyerah dari perjuangan karena khawatir dengan usianya. Lucy berpikir lebih baik menyudahi perjuangan kemudian menikah dan memiliki banyak anak. Alice pun memiliki kekhawatiran yang hampir sama, apakah ada laki-laki yang mau menerima diri Alice beserta ideologi dan perjuangannya. Inez, sang Joan Of Arc, tiba-tiba mengundurkan diri karena merasa sangat lelah dengan perjuangan yang terasa ngga-ada-habisnya. Ini memang “huft” banget. Tapi saudari yang sebenarnya adalah saudari yang saling menguatkan, saling mendukung, saling mengingatkan tujuan pergerakan. Mereka bisa bangkit lagi dan mantap meneruskan perjuangan. Terharu.

Ngga ada perjuangan yang sia-sia. Perjuangan Alice, Lucy dan kawan-kawannya di NWP terbayar dengan Amandemen ke-19 Konstitusi Amerika Serikat tahun 1920 yang memberikan hak pilih kepada perempuan. Walaupun konstitusi itu harus dibayar dengan perjuangan berat dan penganiayaan yang diterima oleh Alice. Alice dan kawan-kawan sempat dijebloskan ke penjara dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum atas aksi yang dilakukannya di depan Gedung Putih.

Perjuangan tidak berhenti di gelombang pertama karena ada gelombang-gelombang baru yang akan terus bergerak melawan arus patriarki. Kini kita sudah menemukan keadaan dimana perempuan tidak dilarang sekolah, perempuan memiliki hak memilih dan dipilih, pelarangan perkawinan anak, perbaikan fasilitas kesehatan, pelarangan female genital mutilation atau sunat perempuan, penghargaan yang sama kepada anak perempuan karena jaman dulu bayi perempuan banyak dibunuh karena dianggap tidak berguna, kesetaraan hak ketenagakerjaan antara perempuan dan laki-laki, berakhirnya perbudakan, persamaan hak untuk LGBTIQ, pengakuan otonomi atas tubuhnya sendiri, dsb. Namun, pada kenyataannya di berbagai daerah dengan kultur patriarki yang kuat, masih ada praktik-praktif diskriminatif dan tidak berperikemanusiaan.

Film ini memang menarik banget. Film ini menyajikan sejarah yang penting. Recommended!




Saturday, July 17, 2010

Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono - Gadis Kecil


Beberapa saat yang lalu, film yang saya tunggu-tunggu "Minggu Pagi di Victoria Park" akhirnya tayang juga di bioskop Semarang. Kontan saya segera mengabari saudara2 saya buat nobar.

Kenapa saya menunggu-nunggu film ini? Banyak alasan. Antara lain, saya pengagum drummer perempuan bernama Titi Sjuman dan dia menjadi salah satu tokoh utamanya. Kemudian film ini disutradarai oleh pemain utamanya juga yakni Lola Amaria. Wuihh saya jelas penasaran dengan 2 alasan itu. Lalu alasan lain yang sangat menarik perhatian adalah tema film ini yaitu mengangkat isu buruh migran perempuan di Hongkong.

Oke, kemudian saya pun pergi menonton. 

Saat ini saya hanya akan share soal soundtracknya. Gubrak! Hehehe... Waktu adegan apa ya saya lupa... [kalau ada yang ingat bisa tolong diingatkan hehe...]. Dalam adegan itu diiringi alunan lagu yang langsung nyentel di telinga dan terekam terus di otak. Lirik lagu tersebut adalah...

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjelma aku
Ternyata oh ternyata lagu tersebut adalah musikalisasi dari puisinya Sapardi Djoko Damono berjudul "Sajak Kecil Tentang Cinta" yang ada di album "Gadis Kecil".



Komentar tentang lagu-lagu dalam album musikalisasi puisi itu? KERENNNNN... semua lagu tanpa luput. Sangat sangat direkomendasikan bagi yang suka musik akustik minimalis namun "dalam" dengan iringan petikan gitar, flute yang lembut, dan biola. 

KLIK DISINI untuk info lebih lanjut dan lebih akurat hehe...




Tuesday, May 11, 2010

Film: "Les Chansons d'amour (Love Songs)" (2007)



Voila! Ini dia film aneh nan keren dari Perancis. Film yang disutradari oleh Christophe Honoré

Memang ini termasuk film cinta-cintaan tapi bukan sekedar roman picisan. Saya dapet film ini sebenarnya waktu itu iseng-iseng hunting di lapakan, terus melihat ada sebaris kalimat berbahasa Perancis lantas saya pun baca sedikit ulasan di belakang cover dvd itu. Hmmm...pusing juga jalan ceritanya (justru ini yang bikin penasaran!!!). Tapi yang bikin tertarik karena ada logo Cannes Festival nge-cap di cover depan. Jaminan nggak jaminan juga jebolan Cannes, tapi  toh nggak haram juga buat beli karena saya masih mempercayai Cannes Fest. Well finally I bought it. Hehehe...

Ternyata film ini romantis juga, lucu juga, dan ternyata memang keren ceritanya, sinematografinya, design costume-nya, maupun score-score musiknya. Saya adalah pembenci film cinta-cintaan kelas kacang goreng. Ini beda, ini cerita cinta yang nggak biasa, dimana film ini ngasi tahu ke kita bahwa cinta itu UNIVERSAL. Cinta nggak sebatas hanya saling mengasihi antara pasangan laki-laki dan perempuan, atau sesama jenis, tapi cinta bisa mengenai siapa saja tanpa pandang bulu (baca: kelamin dan gender). Diceritakan film ini ada seorang tokoh bernama Ismael yang diperankan oleh Louis Garrel yang menjalani living together dengan kekasihnya yang bernama Julie yang diperankan oleh Ludivine Sagnier. Karena kehidupan mereka nggak cukup harmonis maka mereka sepakat untuk melakukan threesome dengan seorang perempuan teman kerja Ismael bernama Alice yang diperankan oleh Clotilde Hesme. Di sini Alice berperan ganda, menjadi partner Julie dan juga Ismael. Oleh karena itu Alice tidurnya di tengah hehe...

Julie - Alice - Ismael

Tapi ternyata hubungan percintaan menjadi semakin kompleks. Mereka bertiga saling mencintai. Julie-Ismael, Ismael-Julie, Julie-Alice, Alice-Julie, Ismael-Alice, Alice-Ismael. Nah bingungkan? Memang, kalau dipikir pakai "otak" memang memusingkan, cuma kalau disadari sama sekali nggak ada yang aneh diantara mereka. Cinta? Apa sih cinta? Bukankah itu hal yang sangat suci dan sensitif yang tidak bisa kita karang-karang, kita rupa-rupa, atau kita kreasikan. Cinta terbentuk dengan sendirinya dan sangat naluriah. Nggak ada hal yang membakukan cinta kan? 

Orang tua Julie curiga mengapa hubungan Julie dan Ismael nggak harmonis seperti dulu, orang tua Julie pun bertanya kepada Julie. Tapi Julie menolak untuk menceritakannya karena menurutnya hal ini sangat personal. Kemudian ibu Julie (Brigitte Roüan) sama sekali nggak mempermasalahkan hal itu lagi dan menghormati pernyataan Julie dengan tidak mengganggu kehidupan pribadi Julie (Lesson #2: apakah ada di Indonesia seorang orang tua yang menghormati tiap keputusan anaknya dan tidak ikut campur dalam kehidupan pribadi anaknya? Sebut saja sangat langka dan memang nggak ada :p hehehe).

Lanjut cerita Julie dan Ismael kembali rujuk dan tetap ada Alice diantara mereka. Kemudian selang beberapa waktu Julie dan Ismael berbaikan, tiba-tiba Julie ditemukan tergeletak di depan sebuah cafe dan sudah tidak bernyawa lagi. Hal ini membuat Ismael depresi berat. Kehadiran Alice tidak membawa efek apa-apa. Akhirnya Alice pun pergi.


saat polisi melakukan evakuasi mayat Julie di depan sebuah cafe

Sepeninggal Julie, Ismael menjadi kacau balau dan muram. Kehidupannya berantakan. Sepeninggal Julie pula, Ismael sering diikuti laki-laki misterius. Kemana Ismael pergi pasti ada laki-laki itu mengikuti. Ismael curiga, siapa laki-laki muda itu yang selalu mengikutinya. Lama-lama Ismael gerah dan jengkel. Ditanyailah anak muda itu dan ternyata anak muda itu bernama Erwan (Gregoire Leprince-Ringuet) dan jatuh cinta pada Ismael. Ismael kontan kaget dan risih pada anak muda itu. Oia, Erwan ini ternyata adalah adik mantan pacarnya Alice (yeahh...tambah membingungkan :p).

Suatu hari Erwan datang ke apartemen Ismael. Dan sejak itu, Ismael pun tak kuasa menolak cinta yang ditawarkan Erwan karena Erwan gigih sekali untuk menunjukkan pada Ismael bahwa ia sangat mencintainya.

Film ini mampu meramu adegan percintaan sesama jenis dengan sangat romantis dan bikin kita melting. Bahkan diantara adegan itu sesekali kita pasti mengembangkan senyum. Erwan dan Ismael benar-benar serasi di film ini. Akting mereka sering bikin geli dan membuat hati dag dig dug. Hehehe...



Yang saya suka dari film ini adalah sepanjang cerita diiringi adegan musikal yang catchy. Lagu-lagu pop ringan khas Perancis yang dinyanyikan dengan wajar sehingga enak didengar.



Film ini memiliki cerita yang kelihatan simple tapi sebenarnya complicated. 

Di awal dan pertengahan kita akan dibawa untuk terus bertanya-tanya, tapi begitu sampai menuju akhir cerita, kita akan mengembangkan sebuah senyuman untuk film ini. Cerdassss...hehe...

Thursday, May 6, 2010

Film: "The Piano" (1993)


Ya, saya sangat sangat hobi nonton film ber-genre drama. Cengeng? Haha...bullshit! Film drama banyak yang merupakan representasi dari novel-novel atau buku-buku bagus. Walaupun kadang film dan buku melencengggg jauuuhhh banget tapi saya sih nggak pernah ada masalah dengan hal itu. Penerjemahan tiap-tiap kepala kan pasti beda-beda. Film drama juga banyak menyiratkan pelajaran-pelajaran hidup. Itulah mengapa saya mencintai film-film drama :p

Suatu ketika sebenarnya saya pengen beli film "The Pianist" setelah nyari-nyari di rak-rak lama, nggak ketemu ketemu juga. Eh nemunya malah film ini, "The Piano". 
Tanpa pengantar sama sekali saya beli film ini dengan harapan iseng-iseng gundah bertanya-tanya.

Nggak nyesel!!! Film ini bagus. Ber-setting tahun 1800-an, which is saya adalah penyuka style dan suasana berbau-bau abad segitu.

Singkat saja, film ini bercerita tentang seorang perempuan tunawicara bernama Ada McGrath yang diperankan oleh Holly Hunter. Dia memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil bernama Flora yang diperankan oleh Anna Paquin. Ada sebenarnya tidak bisu tapi dihitung sejak suaminya meninggal dia sama sekali tidak pernah bicara lagi dengan siapa pun, termasuk anaknya. Di film memang nggak digambarin secara jelas apa penyebabnya dia menjadi tidak pernah bicara lagi., bahkan esktrimnya lagi dia  berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa isyarat. Aneh memang, sejak kematian suaminya itu pula Ada berubah menjadi seorang yang sangat kelam. Karena membisu itu, dia hanya mengungkapkan perasaannya dengan bermain piano, piano, piano, dan piano. Dan yang setia mendampingi Ada kemana saja dan menerjemahkan apa yang dia maksud adalah anaknya, Flora. Anna Paquin memerankan Flora dengan baik banget, kerenlah.

Kemudian Ada menikah lagi dengan seorang pria bernama Alistair Stewart yang diperankan oleh Sam Neill. Ada kemudian pindah ke sebuah pulau. Semua barang dibawanya tak ketinggalan piano "hidupnya". Sesampainya di tepi pantai, orang-orang suruhan suami barunya (suku Maori) mengangkut semua barang bawaannya ke rumah Alistair yang letaknya ditengah hutan. Karena letak rumahnya naik turun bukit, Alistair memutuskan untuk meninggalkan piano itu di pantai, Ada marah besar. Tapi Ada tidak bisa berbuat apa-apa. Sesampainya dirumah, Ada frustasi karena pianonya tertinggal di pantai.
Alistair mempunyai teman bernama  Baines yang diperankan oleh Harvey Keitel. Baines adalah orang yang mampu mendatangkan piano itu kembali ke Ada. Tapi dengan satu syarat, Ada harus mengajarinya piano sampai mahir. Ada menyanggupinya. Nah, cinta bersemi dari tiap-tiap pertemuan Ada dan Baines. Lanjut cerita, affair mereka ketahuan dan suami Ada marah besar. Emosi memuncak hingga Alistair memotong jari Ada. 

Akhir cerita Ada tidak bisa bermain piano lagi karena jarinya cacat. Kemudian Baines mengajak Ada dan Flora kabur meninggalkan pulau itu. Mereka bertiga memulai hidup baru di kota lain. Yang mengharukan adalah ketika Baines membuatkan extension jari palsu yang terbuat dari bahan metal ke jari Ada yang buntung itu. Kini Ada bisa kembali bermain piano. Baines orang hebat, dia yang mampu mengembalikan semua passion hidup Ada.

Selain sisi penceritaan, yang lainnya yang saya suka adalah sisi sinematografinya. Semua scene per scene digambarkan secara apik, dan beberapa scene sangat dramatis seperti saat scene Ada membuang pianonya ke laut kemudian kakinya tersangkut dan dia ikut tenggelam, efek jatuhnya keren banget, terus dramatis juga saat Ada menggores-gores pisau ke meja makan dan mengukir tuts-tuts piano sebagai aksi protes yang depresif ke suaminya yang tega meninggalkan pianonya di pantai. Scoring lagunya seluruhnya digubah oleh Michael Nyman. Musik instrumental pianonya keren menghanyutkan semua, untuk mendengarkan klik di sini. Makanya nggak heran film ini mendapat penghargaan prestisius. Sebut saja,
- Best Performance Prize di Cannes Film Fest. 1993 : Holly Hunter
- Pemeran Utama Wanita Terbaik di Academy Award 1994 : Holly Hunter
- Pemeran Pembantu Wanita Terbaik di Academy Award 1994 : Anna Paquin
- Sutradara Terbaik di Academy Award 1994 : Jane Campion lewat film The Piano ini (Fyi, tercatat sudah ada 4 sutradara wanita yang memenangkan Oscar yaitu : Lina Wertmüller lewat film "Seven Beauties "(1976), Jane Campion lewat "The Piano" (1993), Sofia Coppola dalam "Lost in Translation" (2003), dan yang terbaru ini Kathryn Bigelow lewat "The Hurt Locker" (2010).


Ada McGrath bermain piano

Flora

Ada McGrath dan anaknya Flora (Anna Paquin)

Sesampainya Ada Dan Flora di pulau tempat suami barunya tinggal

Scene saat mereka meninggalkan piano milik Ada di pantai

Saat Ada dan Stewart menikah, agak konyol karena foto pernikahan dilakukan ditengah hujan

Saat Ada mengajari Baines bermain piano, karena Baines berhasil membawa piano itu kembali


* screen picture by www.hotflick.net









Tuesday, May 4, 2010

Film: "Hot Fuzz" (2007) - Polisi Indonesia mestinya nonton film ini

Akhir-akhir ini dunia peradilan Indonesia menuh-menuhin kolom-kolom di media cetak dan menjajahi berita-berita di tv. Ngeliat-liat berita itu seketika saya jadi ingat sebuah film action yang kocak banget yaitu Hot Fuzz. Film ini nampar banget pipi kepolisian kita :p



Kenapa? Karena film Hot Fuzz menceritakan seorang polisi, Sersan Nicholas Angel yang dimutasi ke sebuah kota kecil yang diperankan oleh Simon Pegg. Dia seorang sersan dengan dedikasi yang sangat sangat tinggi bahkan cenderung naif. Itulah hebatnya dia. Kasus sekeciiiiiiillllllllll apapun, dia tangani dengan sangat sangat serius. Lebay ya kata-kata saya? Abis film ini juga lebay banget adegan per adegannya. Salut! Di film ini dia memiliki partner bernama Danny Butterman yang diperankan oleh Nick Frost. Haha saya suka sekali dengan aktor ini, film barunya yang berjudul The Boat That Rocked keren bangett... Film ini konyol banget. Paling gokil adalah menuju ending. Di mana aksi tembak-tembakan edan terjadi. Si Danny yang terobsesi banget dengan film Bad Boys niruin aksi-aksi film itu pas adegan ini. Yang suka film parodi satir lebih baik nonton film ini. High Recommended hehehe... 

Polisi-polisi mesti nonton film ini nih, biar pada malu sendiri hehe...

 

blogger templates | Make Money Online