Aku selalu kembali kepadamu
Dalam segala harap dan takut
Dalam rasa percaya dan ragu
Seperti putih hitam abu
Aku tak pernah tak kembali kepadamu
Aku tanya kepada setiap ibu
Bagaimana aku sepertinya tak tahu
Bahwa tak bertemu bisa membuat rindu
Pada akhirnya aku memang kembali kepadamu
Aku membebaskan yang tak terburu
Aku berdiri karena tidak tahu
Aku kembali untuk menatapmu menenangkan ragu
Monday, October 20, 2014
Sunday, July 15, 2012
Sudah sangat lama lewat dan kini kembali, bahagia.
Holla, saya kembali lagi! :)
Sebenarnya nggak ada hal penting yang niat banget ingin saya tulis. Biasanya, saya sudah siap ide tapi kali ini nggak. Saya cuma ingin menyapa blog yang sudah lama banget saya tinggal.
Banyak hal berubah, tentunya. Saat ini saya sudah menyelesaikan dua semester yang menyedot banyak keringat dan waktu tidur. S2 bener-bener gilaaaa...!! Apalagi ditambah urusan kerjaan. Kata orang-orang, perempuan itu terkenal dengan keterampilan multitasking-nya, tapi saya tidak. Sejujurnya, setahun ke belakang saya kelimpungan. Saya sampai nggak tahu apa mengorbankan apa. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melepas yang satu dan meneruskan yang satunya lagi. Hidup itu tentang memilih, bener nggak sih? Menurut saya bener. Cuma orang-orang titisan dewa yang bisa dapat semuanya tanpa memilih, dan kalau itu ada, saya iri.
Yea, I'm 25, single and jobless. Perfect! Yay!
Saya nggak malu. Tapi kalau di-compare sama orang lain yang sukses status dunia, ya saya juga bakal diem dan nyoba untuk lari yang jauh. Hahaha...but this is my life. Saya nggak ngerti lagi cara lain untuk bisa menjalani hidup dengan baik selain dengan merasa bahagia setiap harinya. Ya, bahagia itu nggak serumit membayangkan kapan saya nikah, kapan saya dapet gelar master, kapan saya dapat kerja bagus. Bahagia itu kalau saya bisa tidur sehari minimal delapan jam. Kalau bisa lebih, saya sujud syukur. Bahagia itu kalau tiap pagi bisa minum kopi panas, syukur-syukur ditambahi creamer. Bahagia itu kayak sekarang ini, saya masih bisa ngerasain lapar dan saya hendak menuju warung untuk beli mi instan sebungkus dan telur ayam satu butir.
Saya nggak malu. Tapi kalau di-compare sama orang lain yang sukses status dunia, ya saya juga bakal diem dan nyoba untuk lari yang jauh. Hahaha...but this is my life. Saya nggak ngerti lagi cara lain untuk bisa menjalani hidup dengan baik selain dengan merasa bahagia setiap harinya. Ya, bahagia itu nggak serumit membayangkan kapan saya nikah, kapan saya dapet gelar master, kapan saya dapat kerja bagus. Bahagia itu kalau saya bisa tidur sehari minimal delapan jam. Kalau bisa lebih, saya sujud syukur. Bahagia itu kalau tiap pagi bisa minum kopi panas, syukur-syukur ditambahi creamer. Bahagia itu kayak sekarang ini, saya masih bisa ngerasain lapar dan saya hendak menuju warung untuk beli mi instan sebungkus dan telur ayam satu butir.
Bahagia itu ada sama apa yang sudah kita punya.
Selamat makan dan selamat selalu berbahagia!
Kata Bobby McFerrin, "Don't worry, be happy!"
Kata Bobby McFerrin, "Don't worry, be happy!"
Tuesday, November 15, 2011
Fiksi: "Aku dan Rasa Pahit"
Aku bertanya
pada salah seorang sahabat terbaikku, “Apa hal terpahit yang pernah kamu
rasakan?”
Sahabatku itu
menjawab, “Pahit adalah sebutan yang tepat untuk hidupku, seluruh hidupku. Aku
tak pernah sekalipun memiliki kisah manis dalam percintaan. Aku cukup malu
untuk memulai kisah percintaan dengan seseorang. Yah, aku memang seekor
‘ayam’. Dari kecil hidupku terpisah dengan Ayah kandungku. Dia tidak sekali
pun pernah menengokku sepanjang dua puluh tahun ini. Ibuku pun cukup bahagia
dengan Ayah tiri dan anak perempuan kecilnya yang lucu dan manis yang kini
terpisah denganku, yang saat ini berstatus anak rantauan yang terjebak di dalam kamar kos empat kali empat meter di ibukota Indonesia, Jakarta. Bekerja dari Senin sampai Jumat. Menjadi korban tetap kemacetan Jakarta, yang harusnya jam 7 pagi aku masih bisa ngulet di kasur dan jam 4 sore sudah bisa nonton drama Korea di televisi tapi di sini, di Jakarta, destinasi dalam
Kota yang jaraknya tak sampai 10 kilometer harus ditempuh dengan waktu yang cukup untuk
tidur siang dengan tenang. Saat pulang dan jalanan macet, aku hanya bisa melongo menatap kaca dari Kopaja yang lebih mirip dengan kaleng raksasa berjalan. Nggak ada teman pulang dan nggak ada sisipan sifat sok asik buat mulai ngajak orang asing yang duduk di kursi sebelah. Tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk
menggambarkan itu semua selain “pahit”.
“Jika pahit
adalah hidupmu, maka pahit bagiku adalah diriku. Kepahitan kini aku sadari
sebagai diriku. Mulanya aku menolak, namun ternyata pahit membawa orang
mengerti bahwa pahit itu bukan elegi. Pahit bukan ironi. Pahit adalah rasa
syukur. Pahit ada membawa aroma minuman ternikmat bernama kopi. Aku.”
Aku tersenyum
menatapnya menatapku dari dalam cangkir sana. Aku tertawa geli melihatnya sok
bijaksana, sok tegar. Kemudian kami tersenyum simpul menatap kepahitannya dan
kepahitanku.
-Semarang, 14 November 2011-
Monday, November 14, 2011
Fiksi: "Sekotak Mimpi"
“Kamu punya mimpi?”
“Ada, aku punya sekotak.”
“Oya?”
“Aku punya sekotak, isinya banyak, tak terhitung. Tiap
hari aku mengumpulkannya satu per satu. Dari dulu sampai sekarang. Aku tak
pernah berhenti. Ketika ada yang mau bertukar mimpi, dengan senang hati
aku menukarkan mimpiku itu. Karena
dengan saling melihat mimpi, maka aku dapat melihat kebesaran orang itu. Aku
sering terpana, aku sering berdecak kagum, sering juga aku menangis terisak.
Mimpi-mimpi itu sungguh luar biasa. Mengumpulkan, bertukar dan berbagi mimpi
adalah kegemaranku. Maukah kamu bertukar juga denganku?”
“Mau. Tapi aku harus pulang dulu. Kita sedang di mimpi
orang lain.”
-Semarang,
12 November 2011-
Saturday, November 12, 2011
Fiksi: "Kami dan Definisi-Definisi Itu"
Anjing melolong, kabut makin menepi. Aku dan dia masih lekat dengan secangkir kopi pekat dan obrolan yang hangat.
Kami saling menangkap kata. Kami saling bersentuhan dengan imaji. Dia makin mengerti arah pikiranku dan aku pun makin menyusuri alur pembicaraannya.
Kami saling menangkap kata. Kami saling bersentuhan dengan imaji. Dia makin mengerti arah pikiranku dan aku pun makin menyusuri alur pembicaraannya.
Hingga suatu ketika aku memberitahunya hal yang paling aku sesali di dunia ini. Hal yang membuatku (masih) tidak dapat menerima kenapa aku lahir dan semua ini lahir.
Sungguh, sebenarnya saat ini aku ingin tertawa. Ekspresi mukanya sungguh memesona, aku suka raut penasaran itu. Raut menanti, terdiam dan kelopak matanya yang berkedip 10 detik sekali.
Kubuyarkan pandanganku. Aku pun kembali ke konteks pembicaraan. Aku menatap bibir cangkir di depanku.
Sungguh, sebenarnya saat ini aku ingin tertawa. Ekspresi mukanya sungguh memesona, aku suka raut penasaran itu. Raut menanti, terdiam dan kelopak matanya yang berkedip 10 detik sekali.
Kubuyarkan pandanganku. Aku pun kembali ke konteks pembicaraan. Aku menatap bibir cangkir di depanku.
"Aku menyesal kenapa aku lahir setelah segala definisi di dunia ini lahir. Aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk menamai dan mendefinisikan sesuatu itu sesukaku. Aku merasa seperti kelinci yang keluar dari topi pesulap, yang tahu-tahu muncul, yang kemudian didikte oleh segalanya yang sudah ada sebelum aku. Aku merasa seperti sayuran organik, yang tahu-tahu sudah ada di rak supermarket dengan barcode yang menempel di jidatku. Padahal sungguh, sungguh aku kecewa dengan definisi-definisi yang sudah ada. Beberapa di antaranya, aku sangat tak menyetujuinya. Definisi-definisi itu kacau balau."
"Lalu kamu mau apa?"
"Aku hanya ingin redefinisi."
Arah mataku yang semula tertuju ke bibir cangkir, berpaling ke kedua bola matanya. Dia lekat memandangku. Kemudian dia berkata, "Mari kita melakukannya bersama."
-Semarang, 12 November 2011-
Subscribe to:
Posts (Atom)
