Wednesday, May 16, 2018

Fiksi: Cukup (berulang) Sekali



Cukup sekali mengatakannya. Aku sendiri tak tahu batas takutku sampai mana. Apakah dari Minggu menuju Senin sementara pekerjaan belum selesai? Apakah dari siang ke malam sementara sore saja aku ngos-ngosan? Atau apakah dari ujung kesadaran sampai lelapnya tidur sementara jiwaku teler entah di mana?

Sekali mengatakannya. Aku tak pernah paham logikaku terukur sampai seberapa jauh. Apakah dari satu sampai tak terhingga sementara yang diajarkan selalu nol dan satu? Apakah dari jalan ini dan kemudian lurus saja sementara ada keinginan untuk berbelok ke sana? Apakah dari mula ke ujung sana sementara putus di tengahnya? Ah, aku salah. Aku berulang kali mengatakannya. 

Sunday, August 13, 2017

Kerut di Dahi



Memandangi kerut-kerut di dahi. Tanda bukti waktu mencetak perjalanannya. Kemudian memunculkan satu kesadaran bahwa waktu lari, aku malah hendak pergi. Memandangi kerut-kerut di dahi. Aku menua, sementara waktu terus menduplikasi dirinya. Kemudian ada satu pertanyaan, apa yang nampak jika yang lari dan pergi ini terhenti? Akal hidup, jiwa tumbuh, yang berwujud mati, dan mungkin hanya bersisa keyakinan di dahi.

Jakarta, 13 Agustus 2017


Sunday, July 30, 2017

Jeda



Sore yang gerah dan malam yang pucat ada jedanya, yaitu sebuah senja yang tak berat. Rumah-rumah reyot dan akar belukar juga ada jedanya, yaitu jalan setapak yang tak terlalu sukar. Di antara hidup dan mati ada jedanya, yaitu perenungan tentang laju dan henti. Cinta dan kejujuran tidak ada jedanya. Rapat berkelindan. Seharusnya mudah melihat.

Pari, 23 Juli 2017  

Saturday, July 29, 2017

Fiksi: Bopeng di Tangan Kiriku



Aku putuskan untuk berangkat hari ini.

Tubuhku, tatanan sosial, orang tua. Tiga hal yang aku sungguh pertimbangkan dengan sengit. Di dalam kepala bisa saja bicara tentang kebebasan tapi realita bisa saja tidak, seringnya tidak. Aku ingin membuat luka, aku ingin mengabadikan luka. Menyulapnya menjadi keindahan.

Aku pandangi bopeng kecil di tangan kiriku. Yang sebenarnya masih meninggalkan ingatan yang selalu melintas cukup repetitif dan tajam.

Sebuah kejadian bisa jadi lumrah meninggalkan bekas luka di tubuhku dan tak ada yang mengusiknya selain diriku sendiri. Sedangkan luka yang ingin aku buat, pada tubuhku sendiri, diusik sekian banyak nilai.

Aku putuskan berangkat hari ini. Menggambarkan lukaku di dekat bopeng ini. Wajah kecil sayu. Adikku.

Jakarta, 29 Juli 2017

Saturday, July 1, 2017

Lebaran Ketupat



Di sini kami punya adat merayakan Syawalan atau Bodo Kupat (lebaran ketupat) seminggu setelah Idul Fitri. Adatnya ya masak-masak lagi. Masak ketupat, lepet, opor, sambel goreng dan segala printilannya. Mungkin terdengar konsumtif tapi efeknya dahsyat lho. Pagi ini, tetangga mengirimkan semangkok sambel goreng telur lengkap dengan ketupat dan lepet. Tetangga kami itu Nasrani. Kota kami boleh saja tak punya moderenitas untuk dibanggakan tapi urusan keberagaman adalah degup jantung sejak lampau. Itulah kenapa ketika menyaksikan ibu kota, saya cuma bisa senyum sambil merem melek. Bukan perihal lain, hanya kebelet boker.

Monday, June 19, 2017

...


Berada di tengah bangunan dengan dinding yang menjulang. Tidak bisa pulang karena tembok ini menghadang. Atau memang sengaja membiarkan diri untuk tak pulang karena di sana hanya akan menjadi orang yang malang.

Berada di tengah bangunan dengan belukar berduri tajam. Kaki tak mungkin meninggalkan jejak di pertengahan malam. Atau mungkin harus menunggu matahari bangkit dari temaram karena dia mungkin bisa hapus raut-raut muram.


Jakarta, 19 Juni 2017



Sunday, June 18, 2017

Kepada Orang Rumah


Rumah bagi kami seperti tempurung kura-kura. Kami membawanya di punggung kami ke mana-mana. Segala nyawa, karakter dan nuansa rumah beserta kami. Kami memperoleh rasa aman. Kami memperolehnya dari hal yang paling sederhana: berbincang.

Beberapa bulan saya tidak pulang ke rumah. Tidak pula berbincang dengan orang rumah. Entah apa yang lebih menggoda hingga akhirnya benar-benar "meninggalkan" rumah beserta segala topik pembicaraannya.

Seperti berada di kapal yang limbung, dikoyak ombak, jungkir balik tak keruan. Bahkan kampretnya, saya yang sudah dicap tua ini, yang diharapkan menjadi bijak, terbalik menjadi anak kecil yang memarahi diri sendiri, "Kamu ke mana? Tidak ada di rumah, tidak juga di dalam diri kamu sendiri. Kamu hilang disapu waktu?"

Tempurung yang sedari tadi tergeletak di ujung ruang, saya panggul kembali. Kemudian mengetik satu pesan singkat, "Mah, Sabtu ini saya pulang." Sambil berdoa, semoga kapal yang limbung ini segera tegak tenang lagi.

Jakarta, 18 Juni 2017

Saturday, January 2, 2016

Film: "Nausicaa of the Valley of the Wind" (1984)





Judul: Nausicaa of the Valley of the Wind
Ditulis dan disutradarai oleh: Hayao Miyazaki
Tahun produksi: 1984

Pantes aja kalau Nausicaa of the Valley of the Wind telah direkomendasikan oleh WWF.

Nausicaa merupakan anak perempuan pemimpin Valley of The Wind, salah satu daerah yang bertahan dari kondisi bumi yang makin beracun dan tidak aman bagi makhluk hidup, kecuali jenis serangga dan kawanan jamur/lumut.

Hutan telah dikuasai oleh serangga dan jamur karena mereka marah terhadap manusia yang terus menerus merusak bumi. Ohmu sebagai serangga yang paling kuat menjadi lini depan yang sangat mematikan bagi manusia-manusia yang berusaha mengganggu pertahanan serangga di dalam hutan. Serangga dan jamur membentuk pertahanan dengan mengeluarkan racun sehingga manusia tidak akan mudah memasuki hutan.

Nausicaa berbeda dengan manusia yang lain, yang memusuhi kawanan serangga. Manusia merasa serangga telah mengambil alih kuasa bumi. Namun, Nausicaa selalu menghargai dan memperlakukan serangga layaknya makhluk hidup yang sudah semestinya harus dikasihi.

Hingga tiba saatnya monster ciptaan musuh telah lahir. Monster itu diperintah untuk menyerang kawanan serangga, terutama menyerang Ohmu. Anak-anak Ohmu ditembak oleh tentara musuh. Ohmu marah, bola matanya berubah merah. Ratusan bahkan mungkin ribuan Ohmu menyerang penduduk. Serbuan Ohmu di anime ini mengingatkan dengan scene penyerangan kawanan roh babi hutan di Mononoke. 

Tetapi karena Ohmu bisa membaca jiwa Nausicaa yang ingin semua makhluk hidup berdampingan dengan damai dan tidak menyakiti satu sama lain, Ohmu akhirnya menurunkan amarahnya. Ohmu kembali ke hutan dengan damai. Penduduk bahagia dan takjub dengan perjuangan Nausicaa yang sampai titik terakhir tidak menggunakan kekerasan untuk menghalau Ohmu.

Film ini khas banget anime Studio Ghibli: menonjolkan karakter utama perempuan yang kuat, tidak memerlukan pahlawan/pangeran ganteng untuk menyelamatkan tokoh utama, ada benda-benda terbang, banyak menunjukkan gulungan awan, tokoh antagonis yang memiliki sisi baik dan dedikasi Ghibli untuk promote kesetaraan gender dan menyelamatkan alam.

Tapi kali ini saya ngga melihat gulungan awan-awan khas Miyazaki-sama yang realis dan romantis (halah hehe), padahal Miyazaki-sama menyutradarai anime ini. Mungkin pertimbangan bumi waktu itu lagi rusak kali ya, sehingga awan dijadikan representasi betapa buruknya keadaan bumi. ‪#‎cmiiw‬

Must watch! 


pictures from: 
http://www.mangauk.com
http://geekynerfherder.blogspot.co.id/2012/08/movie-poster-art-nausicaa-of-valley-of.html


Friday, January 1, 2016

Serial Televisi: "Gangaa" (2015)



Judul Serial: Gangaa

Tahun: 2015

Negara: India

Ditayangkan oleh: SCTV
Jadwal tayang: Senin - Jumat pukul 12.30 WIB

Beberapa temen ngetawain karena saya mulai ngikutin sinetron India "Gangaa" di SCTV hehehe... XD~

Diceritakan mengenai seorang anak perempuan bernama Gangaa dari kasta Sudra yang harus mengikuti adat istiadat untuk dinikahkan pada usia 5 tahun. Kemudian orang tua dan suami Gangaa meninggal, sehingga dia harus menerima triple status minoritas yaitu kasta rendah, yatim piatu dan janda kecil.

Mendapatkan status sebagai janda di India sangat sulit, mereka akan dikucilkan oleh masyarakat. Ada kepercayaan warga setempat bahwa apabila di pagi hari mereka melihat janda maka kehidupan mereka akan sial selamanya. Janda diwajibkan memakai kain sari putih dan dilarang memakai perhiasan supaya dapat dibedakan dengan perempuan yang belum menikah dan dengan perempuan yang masih bersuami.

Janda dari kasta Sudra akan jauh lebih menderita karena tidak hanya dikucilkan oleh masyarakat tetapi mereka juga tidak boleh menikah lagi, tidak dapat melanjutkan sekolah dan apabila meninggal tidak dikebumikan dengan layak.

Dari ketidakadilan yang dialaminya, Gangaa berusaha untuk lepas dari adat yang menyengsarakan kaum perempuan seperti dirinya. Gangaa memang bukan tokoh nyata tapi serial ini menceritakan betapa buruknya adat istiadat yang tidak berlaku adil kepada perempuan dan anak-anak. Dari suatu sumber yang saya baca, ada istiadat ini masih dirasakan beberapa kasta di India.

Saya ngga tahu endingnya seperti apa, moga-moga tetep edukatif seperti beberapa episode yang sudah ditayangkan.

Layak tonton lah sinetron India ini ;)

Tuesday, December 29, 2015

Film: "Iron Jawed Angels" (2004)




IRON JAWED ANGELS
Produksi: HBO Films
Tahun: 2004
Sutradara: Katja von Garnier

Film ini memberikan gambaran seperti apa pergerakan feminisme gelombang pertama di Amerika. Isu yang diusung waktu itu adalah hak pilih perempuan dan isu hak tenaga kerja perempuan. Mereka begitu gencar memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam pemerintahan. Hal ini menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada pembentukan kebijakan yang tidak lagi diskriminatif.

Bayangkan, pada waktu itu pembuat kebijakan semuanya laki-laki, perempuan diprovokasi untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, perempuan kelas menengah diarahkan untuk menjadi ignoran dan tidak perlu mendukung gerakan, buruh perempuan mendapatkan gaji lebih rendah daripada buruh laki-laki, bahkan sampai fasilitas mendasar seperti tangga darurat kebakaran pun tidak disediakan di tiap-tiap pabrik.

Proses gerakan penuh dengan dinamika. Sesama aktifis perempuan saling tidak percaya. Sesama perempuan saling menjegal demi mendapatkan kedudukan politik. Timbul rasa pesimis apakah keterwakilan perempuan di pemerintahan akan berpengaruh ke kesejahteraan masyarakat. Belum lagi diskriminasi rasial di Amerika yang menahun membuat feminist kulit hitam sempat meragukan ketulusan feminist kulit putih. Hingga pada akhirnya solidaritas terbangun. Yeah, politic sucks tapi film ini memberikan gambaran yang sangat informatif dan menarik mengenai perjuangan para feminist dalam upaya pembentukan kebijakan atau aturan hukum yang adil bagi semua orang tanpa kecuali.

Dua pemeran utama dalam film ini yaitu Alice Paul diperankan oleh Hilary Swank dan Lucy Burns yang diperankan oleh Frances O’Connor merupakan feminist muda yang rebel, kreatif, ekspresif dan ngga pernah takut terhadap apapun bahkan menentang “feminist senior”. Alice sempat berkata bahwa dia ngga mau melawan sesama perempuan tapi keadaan jadi semakin sulit karena feminist muda terus ditekan oleh kaum konservatif. Alice dan kawan-kawan memilih lepas dan mendirikan NWP (National Woman’s Party).

Hal menarik lainnya, mungkin hal ini juga sempat dialami oleh perempuan yang berjuang di isu feminisme yaitu persoalan menghadapi percintaan dan masalah personal. Lucy ingin menyerah dari perjuangan karena khawatir dengan usianya. Lucy berpikir lebih baik menyudahi perjuangan kemudian menikah dan memiliki banyak anak. Alice pun memiliki kekhawatiran yang hampir sama, apakah ada laki-laki yang mau menerima diri Alice beserta ideologi dan perjuangannya. Inez, sang Joan Of Arc, tiba-tiba mengundurkan diri karena merasa sangat lelah dengan perjuangan yang terasa ngga-ada-habisnya. Ini memang “huft” banget. Tapi saudari yang sebenarnya adalah saudari yang saling menguatkan, saling mendukung, saling mengingatkan tujuan pergerakan. Mereka bisa bangkit lagi dan mantap meneruskan perjuangan. Terharu.

Ngga ada perjuangan yang sia-sia. Perjuangan Alice, Lucy dan kawan-kawannya di NWP terbayar dengan Amandemen ke-19 Konstitusi Amerika Serikat tahun 1920 yang memberikan hak pilih kepada perempuan. Walaupun konstitusi itu harus dibayar dengan perjuangan berat dan penganiayaan yang diterima oleh Alice. Alice dan kawan-kawan sempat dijebloskan ke penjara dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum atas aksi yang dilakukannya di depan Gedung Putih.

Perjuangan tidak berhenti di gelombang pertama karena ada gelombang-gelombang baru yang akan terus bergerak melawan arus patriarki. Kini kita sudah menemukan keadaan dimana perempuan tidak dilarang sekolah, perempuan memiliki hak memilih dan dipilih, pelarangan perkawinan anak, perbaikan fasilitas kesehatan, pelarangan female genital mutilation atau sunat perempuan, penghargaan yang sama kepada anak perempuan karena jaman dulu bayi perempuan banyak dibunuh karena dianggap tidak berguna, kesetaraan hak ketenagakerjaan antara perempuan dan laki-laki, berakhirnya perbudakan, persamaan hak untuk LGBTIQ, pengakuan otonomi atas tubuhnya sendiri, dsb. Namun, pada kenyataannya di berbagai daerah dengan kultur patriarki yang kuat, masih ada praktik-praktif diskriminatif dan tidak berperikemanusiaan.

Film ini memang menarik banget. Film ini menyajikan sejarah yang penting. Recommended!




Sunday, January 4, 2015

vandalisme purba

Pulang ke kota asal, Semarang. Kota ayem, tentrem dan cenderung slow. 

Banyak pergerakan, banyak laju yang ngga bisa dibendung, namun pemikiran retro masih diadaptasi. Ngga salah sih, benar dan salah mana ada yang tahu objektifitasnya, kecuali moral ikut campur di dalamnya.

Hmmm...saya ngga akan membahas tentang moral kok. Apakah itu penting? 

Saya cuma akan bahas para vandal yang jalan pikirnya masih purba. Bayangkan t-rex nongol di tengah kota metropolis!

Okelah vandalisme itu tujuannya menambah atau mengubah atau mengacaukan ruang publik menjadi bentuk seni yang lebih tepat menurut pelakunya. Kembali ke jaman dulu, dimana vandalisme itu bermula, vandalisme perlu dan tepat. Di mana ruang publik ditata sedemikian rupa untuk menunjukkan kedigdayaan penguasa negara. Di mana ngga ada kepedulian terhadap realita kehidupan sosial. Penguasa negara itu layak disebut sebagai perusak ruang. 

Kembali ke waktu sekarang, muncul raksasa perusak ruang yang keberadaanya jauh lebih masif dan mencemaskan yaitu korporasi. Di lihat dari sisi artistik, pemerintah kita jelas minim cita rasa seni. Fasilitas publik dibuat apa adanya dan datar-datar saja, namun fungsinya hampir selalu tepat. Sementara itu ruang publik yang direnggut korporasi juga ngga kalah minimnya cita rasa seni, fungsinya? Engga ada kecuali cuma jualan.

Ngga sih, saya ngga akan menggiring opini untuk menentukan mana yang bener dan salah. Saya cuma prihatin sama orang-orang yang katanya pemberontak. Yang mengubah (saya pilih kata mengubah saja ya alih-alih merusak walaupun memang demikian) fasilitas umum sementara melakukan pembiaran terhadap ruang publik yang dimakan korporasi. Rasanya ngenes.

Mungkin mereka benar-benar t-rex yang pas jaman purba ngga kena lahar gunung api terus otaknya berevolusi jadi sebiji jagung. Or simply stupid. 




Monday, October 20, 2014

Seberang


Menyeberangkan harapan itu sulit
Aku harus rela melepasnya ke seberang sana

Kamu tahu rela itu apa?

Aku pun tidak tahu sampai aku menyeberangkannya ke sana

Saat harapan itu sudah berjalan menuju ke seberang sana,
aku mengukur obyektifitas "kerelaan"

Saat harapan itu tampak mengecil pelan-pelan,
aku bertanya, "apa aku rela?"

Saat harapan itu benar-bener telah berada di seberang sana,
kosong...

Aku Selalu Kembali Kepadamu

Aku selalu kembali kepadamu
Dalam segala harap dan takut
Dalam rasa percaya dan ragu
Seperti putih hitam abu

Aku tak pernah tak kembali kepadamu
Aku tanya kepada setiap ibu
Bagaimana aku sepertinya tak tahu
Bahwa tak bertemu bisa membuat rindu

Pada akhirnya aku memang kembali kepadamu
Aku membebaskan yang tak terburu
Aku berdiri karena tidak tahu
Aku kembali untuk menatapmu menenangkan ragu


Sunday, July 15, 2012

Sudah sangat lama lewat dan kini kembali, bahagia.

Holla, saya kembali lagi! :)

Sebenarnya nggak ada hal penting yang niat banget ingin saya tulis. Biasanya, saya sudah siap ide tapi kali ini nggak. Saya cuma ingin menyapa blog yang sudah lama banget saya tinggal. 

Banyak hal berubah, tentunya. Saat ini saya sudah menyelesaikan dua semester yang menyedot banyak keringat dan waktu tidur. S2 bener-bener gilaaaa...!! Apalagi ditambah urusan kerjaan. Kata orang-orang, perempuan itu terkenal dengan keterampilan multitasking-nya, tapi saya tidak. Sejujurnya, setahun ke belakang saya kelimpungan. Saya sampai nggak tahu apa mengorbankan apa. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melepas yang satu dan meneruskan yang satunya lagi. Hidup itu tentang memilih, bener nggak sih? Menurut saya bener. Cuma orang-orang titisan dewa yang bisa dapat semuanya tanpa memilih, dan kalau itu ada, saya iri. 

Yea, I'm 25, single and jobless. Perfect! Yay!
Saya nggak malu. Tapi kalau di-compare sama orang lain yang sukses status dunia, ya saya juga bakal diem dan nyoba untuk lari yang jauh. Hahaha...but this is my life. Saya nggak ngerti lagi cara lain untuk bisa menjalani hidup dengan baik selain dengan merasa bahagia setiap harinya. Ya, bahagia itu nggak serumit membayangkan kapan saya nikah, kapan saya dapet gelar master, kapan saya dapat kerja bagus. Bahagia itu kalau saya bisa tidur sehari minimal delapan jam. Kalau bisa lebih, saya sujud syukur. Bahagia itu kalau tiap pagi bisa minum kopi panas, syukur-syukur ditambahi creamer. Bahagia itu kayak sekarang ini, saya masih bisa ngerasain lapar dan saya hendak menuju warung untuk beli mi instan sebungkus dan telur ayam satu butir. 

Bahagia itu ada sama apa yang sudah kita punya.
Selamat makan dan selamat selalu berbahagia!
Kata Bobby McFerrin, "Don't worry, be happy!"



*picture by mildtowild

Tuesday, November 15, 2011

Fiksi: "Aku dan Rasa Pahit"




Aku bertanya pada salah seorang sahabat terbaikku, “Apa hal terpahit yang pernah kamu rasakan?”

Sahabatku itu menjawab, “Pahit adalah sebutan yang tepat untuk hidupku, seluruh hidupku. Aku tak pernah sekalipun memiliki kisah manis dalam percintaan. Aku cukup malu untuk memulai kisah percintaan dengan seseorang. Yah, aku memang seekor ‘ayam’. Dari kecil hidupku terpisah dengan Ayah kandungku. Dia tidak sekali pun pernah menengokku sepanjang dua puluh tahun ini. Ibuku pun cukup bahagia dengan Ayah tiri dan anak perempuan kecilnya yang lucu dan manis yang kini terpisah denganku, yang saat ini berstatus anak rantauan yang terjebak di dalam kamar kos empat kali empat meter di ibukota Indonesia, Jakarta. Bekerja dari Senin sampai Jumat. Menjadi korban tetap kemacetan Jakarta, yang harusnya jam 7 pagi aku masih bisa ngulet di kasur dan jam 4 sore sudah bisa nonton drama Korea di televisi tapi di sini, di Jakarta, destinasi dalam Kota yang jaraknya tak sampai 10 kilometer harus ditempuh dengan waktu yang cukup untuk tidur siang dengan tenang. Saat pulang dan jalanan macet, aku hanya bisa melongo menatap kaca dari Kopaja yang lebih mirip dengan kaleng raksasa berjalan. Nggak ada teman pulang dan nggak ada sisipan sifat sok asik buat mulai ngajak orang asing yang duduk di kursi sebelah. Tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan itu semua selain “pahit”.

“Jika pahit adalah hidupmu, maka pahit bagiku adalah diriku. Kepahitan kini aku sadari sebagai diriku. Mulanya aku menolak, namun ternyata pahit membawa orang mengerti bahwa pahit itu bukan elegi. Pahit bukan ironi. Pahit adalah rasa syukur. Pahit ada membawa aroma minuman ternikmat bernama kopi. Aku.”

Aku tersenyum menatapnya menatapku dari dalam cangkir sana. Aku tertawa geli melihatnya sok bijaksana, sok tegar. Kemudian kami tersenyum simpul menatap kepahitannya dan kepahitanku.


-Semarang, 14 November 2011-

Monday, November 14, 2011

Fiksi: "Sekotak Mimpi"


“Kamu punya mimpi?”

“Ada, aku punya sekotak.”

“Oya?”

“Aku punya sekotak, isinya banyak, tak terhitung. Tiap hari aku mengumpulkannya satu per satu. Dari dulu sampai sekarang. Aku tak pernah berhenti. Ketika ada yang mau bertukar mimpi, dengan senang hati aku  menukarkan mimpiku itu. Karena dengan saling melihat mimpi, maka aku dapat melihat kebesaran orang itu. Aku sering terpana, aku sering berdecak kagum, sering juga aku menangis terisak. Mimpi-mimpi itu sungguh luar biasa. Mengumpulkan, bertukar dan berbagi mimpi adalah kegemaranku. Maukah kamu bertukar juga denganku?”

“Mau. Tapi aku harus pulang dulu. Kita sedang di mimpi orang lain.”




-Semarang, 12 November 2011-

Saturday, November 12, 2011

Fiksi: "Kami dan Definisi-Definisi Itu"

Anjing melolong, kabut makin menepi. Aku dan dia masih lekat dengan secangkir kopi pekat dan obrolan yang hangat.

Kami saling menangkap kata. Kami saling bersentuhan dengan imaji. Dia makin mengerti arah pikiranku dan aku pun makin menyusuri alur pembicaraannya. 

Hingga suatu ketika aku memberitahunya hal yang paling aku sesali di dunia ini. Hal yang membuatku (masih) tidak dapat menerima kenapa aku lahir dan semua ini lahir.

Sungguh, sebenarnya saat ini aku ingin tertawa. Ekspresi mukanya sungguh memesona, aku suka raut penasaran itu. Raut menanti, terdiam dan kelopak matanya yang berkedip 10 detik sekali.

Kubuyarkan pandanganku. Aku pun kembali ke konteks pembicaraan. Aku menatap bibir cangkir di depanku. 

"Aku menyesal kenapa aku lahir setelah segala definisi di dunia ini lahir. Aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk menamai dan mendefinisikan sesuatu itu sesukaku. Aku merasa seperti kelinci yang keluar dari topi pesulap, yang tahu-tahu muncul, yang kemudian didikte oleh segalanya yang sudah ada sebelum aku. Aku merasa seperti sayuran organik, yang tahu-tahu sudah ada di rak supermarket dengan barcode yang menempel di jidatku. Padahal sungguh, sungguh aku kecewa dengan definisi-definisi yang sudah ada. Beberapa di antaranya, aku sangat tak menyetujuinya. Definisi-definisi itu kacau balau." 

"Lalu kamu mau apa?"

"Aku hanya ingin redefinisi."

Arah mataku yang semula tertuju ke bibir cangkir, berpaling ke kedua bola matanya. Dia lekat memandangku. Kemudian dia berkata, "Mari kita melakukannya bersama."


-Semarang, 12 November 2011-





Friday, October 21, 2011

Fiksi: "Aku dan Cermin"


Ada yang bertanya-tanya tentang dirinya sendiri. Aku harus bagaimana? Aku harus menjawab apa? Dia sendiri tahu jawabannya tapi malah bertanya padaku. Padahal aku pun selalu menggantungkan segala keputusan dan jawaban darinya. Maka, sekarang aku yang akan membalikkan keadaan, aku akan mencercanya dengan deretan pertanyaan yang sudah aku persiapkan. Aku akan memaksanya. Walaupun aku hanya ada di sebatas serpihan cermin, aku juga mempunyai hak. Aku berhak bertanya pada wujud tiga dimensiku yang ada di media seberang itu.

Tidak selamanya aku bisa seenaknya didikte olehnya. Aku harus balik mendiktenya. Aku punya kehidupanku sendiri. Namun, dia selalu menarikku menghadap depan cermin kapan pun dia mau. Lama-lama aku lelah juga, apa benar aku tidak sekuasa dia? 

"Ini tidak bisa diteruskan!", bentakku dalam hati. Aku berpikir sangat lama, sangat lama. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tertunduk lesu.

Kemudian ketika aku menghadapnya (dengan terpaksa), aku menatap dirinya, aku menatap bola matanya tajam-tajam. Aku berharap ada jawaban di dalam matanya. Aku korek dalam-dalam dengan seksama. Aku melihat diriku di lensa matanya. Aha! Aku telah menemukan jawabannya. 

Selama ini dia telah menguasaiku dan aku tak sanggup membalas dendam kesumatku kepadanya. Untuk melampiaskan senewen ini aku harus mencari sasaran lain. Cermin! Cermin! Aku butuh cermin! 

Sesaat dia melesat pergi meninggalkanku, aku ambil cerminnya. Aku memasangnya di dinding dekat ruang tamu. Aku pandangi cermin itu. Akhirnya…akhirnya… aku bisa menguasai sesuatu. Aku ada, aku bukan lagi refleksi dari siapapun. Dan aku tak pernah peduli dengan yang selalu mendikteku dulu. Aku telah memiliki cerminnya. Dia sudah musnah, hilang, mati. Aku sangat bahagia.


-Semarang, 19 Oktober 2011-

Saturday, June 11, 2011

Pameran Ilustrasi Grafis Tionghoa “Cheng Li” (3 – 11 Juni 2011)

Yap Tiam Hien Memorial Lectures – Memahami Yap Thiam Hien: Bukan Asal Tionghoa! & Pameran Ilustrasi Grafis Tionghoa “Cheng Li” (3 – 11 Juni 2011)

Tempat: Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir No.31 Semarang
                               
Saat melewati kawasan Pecinan tersebut, sungguh luar biasa. Ada perasaan khusus karena saya jarang sekali melewati kawasan tersebut. Berjajar pertokoan dari ujung ke ujung, warung-warung makanan yang menggoda iman, klenteng dimana-mana dan bau hio disana sini.

Masuk ke Gedung Rasa Dharma, kita disambut perempuan tua yang menjaga meja tamu dengan santainya. Dia menyodorkan buku tamu dan 2 lembar brosur begitu saja, tanpa bicara. Kemudian hanya dengan mengarahkan jari telunjuknya ke atas, dia mengisyaratkan kami agar naik ke lantai 2 karena di sanalah diskusi sedang berlangsung.

Rupanya diskusi tengah berlangsung. Dan saya kembali merasa begitu takjub, orang-orang ini sedang membicarakan apa itu perjuangan HAM, apa itu rasisme, apa itu keberagaman dan apa itu pluralitas. Bertolak dari inti pembicaraan yaitu seorang tokoh bernama Yap Thiam Hien, mereka sepakat untuk menjunjung tinggi pembelaan HAM dan ikut andil di dalamnya. Dimana para narasumber menjadi pemantik api bagi kaum yang selalu diidentikkan oleh masyarakat  dengan “dagang melulu”. Yap Thiam Hien sebagai triple minoritas (minoritas suku = tionghoa, minoritas agama = kristen, minoritas moral = jujur) menjadi sosok yang gerakannya sedikit banyak dijadikan inspirasi oleh kaum tionghoa pada khususnya untuk turut andil dalam upaya-upaya memperjuangkan hak asasi manusia.

Di lantai bawah terdapat pameran ilustrasi grafis karya tionghoa yang berkembang di Indonesia dari tahun 1930-an sampai 1960-an. Ilustrasi grafis yang dipamerkan adalah gambar-gambar ilustrasi yang pernah dicetak untuk cover buku, koran, komik, iklan komersial dsb. Konon untuk mengumpulkan karya-karya tersebut tidak mudah karena banyak karya yang telah dibumihanguskan oleh pemiliknya karena takut ditangkap penguasa Orde Baru pada waktu itu.

Membuat terpukau ketika melihat komposisi warna dan edjaan katanja jang soenggoeh sangat djadoel (baca: klasik itu keren).

Berikut beberapa karya yang dipamerkan: 






  


IMAJINASI ADALAH ENERGI #1



Tidak ada pembebasan, di manapun, kecuali kita menciptakannya.

Pun di sebuah ruang yang sering dinamakan pembebasan bernama “Seni”. Omong kosong katanya di dalam seni terdapat pembebasan. Di saat menemukan istilah standarisasi, komersialisasi, bagus/tidak bagus dan tetek bengek lainnya yang sungguh memuakkan.

Saat kita mau bebas, kita sendiri yang membuatnya, di manapun itu. Ketika ruang-ruang yang ada di sekitar tidak mampu lagi menampung esensi “pembebasan” yang sesungguhnya, maka menciptalah.

“Imajinasi adalah Energi” adalah suatu start yang indah dari Universum Collective dimana tembok-temboknya bergelantungan karya-karya yang mayoritas tidak peduli dengan opini orang. Dimana berkarya ya "ber-kar-ya". Dimana banyak karya egois yang subjektif khas kreatornya. Syarat pesan dan memprovokasi yang melihat untukk melakukan hal yang sama. Toh garis yang bergaris-garis akan indah, titik yang luntur akan menjadi gradasi yang cantik. Kemudian “usaha pembebasan” ini ingin sekali dilanjutkan.

Tanggal 20 Mei 2011 event ini dibuka dengan pementasan teater Tjerobong Paberik dari Bandung yang menyajikan gambaran terkini negara dengan iringan bebunyian dari alat musik tradisional Jawa Barat. Kemudian ada pula pementasan teater dari Openg sama satu orang lagi saya lupa namanya. Di hari berikutnya ada penampilan musisi noise gokil yang senang menyembunyikan wajahnya dibalik topeng, Dead Ra. Anda akan melupakan topengnya karena konsentrasi anda akan terhisap oleh apa yang dimainkannya. Ada pula trio Openg, Purna dan satu lagi saya tetep nggak ingat namanya (maaf!) membawakan High & Dry-nya Radiohead secara akustik. Keren...

Ditunggu sekali “Imajinasi adalah Energi” episode ke-2 ;)

 
*photos by andi fitriono


 

blogger templates | Make Money Online