Monday, June 19, 2017

Hapus Sampai Habis


Berada di tengah bangunan dengan dinding yang menjulang
Tidak bisa pulang karena tembok ini menghadang 
Atau memang sengaja membiarkan diri untuk tak pulang 
Karena di sana hanya akan menjadi orang yang malang

Berada di tengah bangunan dengan belukar berduri tajam
Kaki tak mungkin meninggalkan jejak di pertengahan malam
Atau mungkin harus menunggu matahari bangkit dari temaram
Karena dia mungkin bisa hapus raut-raut muram

Blah, aku masih berada di tengah bangunan ini
Jari-jari sedari tadi sibuk mengetik
Di bagian akhir
Aku pencet tombol hapus sampai habis

Sunday, June 18, 2017

Kepada Orang Rumah


Rumah bagi kami seperti tempurung kura-kura. Kami membawanya di punggung kami ke mana-mana. Segala nyawa, karakter dan nuansa rumah beserta kami. Kami memperoleh rasa aman. Kami memperolehnya dari hal yang paling sederhana: berbincang.

Beberapa bulan saya tidak pulang ke rumah. Tidak pula berbincang dengan orang rumah. Entah apa yang lebih menggoda hingga akhirnya saya benar-benar "meninggalkan" rumah beserta segala topik pembicaraannya.

Seperti berada di kapal yang limbung, dikoyak ombak, jungkir balik tak keruan. Bahkan kampretnya, saya yang sudah dicap tua ini, pada akhirnya memarahi diri sendiri, "Kamu ke mana? Tidak ada di rumah, tidak juga di dalam diri kamu sendiri. Kamu hilang disapu waktu?"

Tempurung yang sedari tadi tergeletak di ujung ruang, saya panggul kembali. Kemudian mengetik satu pesan singkat, "Mah, Sabtu ini saya pulang." Sambil berdoa, semoga kapal yang limbung ini segera tegak tenang lagi.

Jakarta, 18 Juni 2017

Saturday, January 2, 2016

Film: "Nausicaa of the Valley of the Wind" (1984)





Judul: Nausicaa of the Valley of the Wind
Ditulis dan disutradarai oleh: Hayao Miyazaki
Tahun produksi: 1984

Pantes aja kalau Nausicaa of the Valley of the Wind telah direkomendasikan oleh WWF.

Nausicaa merupakan anak perempuan pemimpin Valley of The Wind, salah satu daerah yang bertahan dari kondisi bumi yang makin beracun dan tidak aman bagi makhluk hidup, kecuali jenis serangga dan kawanan jamur/lumut.

Hutan telah dikuasai oleh serangga dan jamur karena mereka marah terhadap manusia yang terus menerus merusak bumi. Ohmu sebagai serangga yang paling kuat menjadi lini depan yang sangat mematikan bagi manusia-manusia yang berusaha mengganggu pertahanan serangga di dalam hutan. Serangga dan jamur membentuk pertahanan dengan mengeluarkan racun sehingga manusia tidak akan mudah memasuki hutan.

Nausicaa berbeda dengan manusia yang lain, yang memusuhi kawanan serangga. Manusia merasa serangga telah mengambil alih kuasa bumi. Namun, Nausicaa selalu menghargai dan memperlakukan serangga layaknya makhluk hidup yang sudah semestinya harus dikasihi.

Hingga tiba saatnya monster ciptaan musuh telah lahir. Monster itu diperintah untuk menyerang kawanan serangga, terutama menyerang Ohmu. Anak-anak Ohmu ditembak oleh tentara musuh. Ohmu marah, bola matanya berubah merah. Ratusan bahkan mungkin ribuan Ohmu menyerang penduduk. Serbuan Ohmu di anime ini mengingatkan dengan scene penyerangan kawanan roh babi hutan di Mononoke. 

Tetapi karena Ohmu bisa membaca jiwa Nausicaa yang ingin semua makhluk hidup berdampingan dengan damai dan tidak menyakiti satu sama lain, Ohmu akhirnya menurunkan amarahnya. Ohmu kembali ke hutan dengan damai. Penduduk bahagia dan takjub dengan perjuangan Nausicaa yang sampai titik terakhir tidak menggunakan kekerasan untuk menghalau Ohmu.

Film ini khas banget anime Studio Ghibli: menonjolkan karakter utama perempuan yang kuat, tidak memerlukan pahlawan/pangeran ganteng untuk menyelamatkan tokoh utama, ada benda-benda terbang, banyak menunjukkan gulungan awan, tokoh antagonis yang memiliki sisi baik dan dedikasi Ghibli untuk promote kesetaraan gender dan menyelamatkan alam.

Tapi kali ini saya ngga melihat gulungan awan-awan khas Miyazaki-sama yang realis dan romantis (halah hehe), padahal Miyazaki-sama menyutradarai anime ini. Mungkin pertimbangan bumi waktu itu lagi rusak kali ya, sehingga awan dijadikan representasi betapa buruknya keadaan bumi. ‪#‎cmiiw‬

Must watch! 


pictures from: 
http://www.mangauk.com
http://geekynerfherder.blogspot.co.id/2012/08/movie-poster-art-nausicaa-of-valley-of.html


Friday, January 1, 2016

Serial Televisi: "Gangaa" (2015)



Judul Serial: Gangaa

Tahun: 2015

Negara: India

Ditayangkan oleh: SCTV
Jadwal tayang: Senin - Jumat pukul 12.30 WIB

Beberapa temen ngetawain karena saya mulai ngikutin sinetron India "Gangaa" di SCTV hehehe... XD~

Diceritakan mengenai seorang anak perempuan bernama Gangaa dari kasta Sudra yang harus mengikuti adat istiadat untuk dinikahkan pada usia 5 tahun. Kemudian orang tua dan suami Gangaa meninggal, sehingga dia harus menerima triple status minoritas yaitu kasta rendah, yatim piatu dan janda kecil.

Mendapatkan status sebagai janda di India sangat sulit, mereka akan dikucilkan oleh masyarakat. Ada kepercayaan warga setempat bahwa apabila di pagi hari mereka melihat janda maka kehidupan mereka akan sial selamanya. Janda diwajibkan memakai kain sari putih dan dilarang memakai perhiasan supaya dapat dibedakan dengan perempuan yang belum menikah dan dengan perempuan yang masih bersuami.

Janda dari kasta Sudra akan jauh lebih menderita karena tidak hanya dikucilkan oleh masyarakat tetapi mereka juga tidak boleh menikah lagi, tidak dapat melanjutkan sekolah dan apabila meninggal tidak dikebumikan dengan layak.

Dari ketidakadilan yang dialaminya, Gangaa berusaha untuk lepas dari adat yang menyengsarakan kaum perempuan seperti dirinya. Gangaa memang bukan tokoh nyata tapi serial ini menceritakan betapa buruknya adat istiadat yang tidak berlaku adil kepada perempuan dan anak-anak. Dari suatu sumber yang saya baca, ada istiadat ini masih dirasakan beberapa kasta di India.

Saya ngga tahu endingnya seperti apa, moga-moga tetep edukatif seperti beberapa episode yang sudah ditayangkan.

Layak tonton lah sinetron India ini ;)

Tuesday, December 29, 2015

Film: "Iron Jawed Angels" (2004)




IRON JAWED ANGELS
Produksi: HBO Films
Tahun: 2004
Sutradara: Katja von Garnier

Film ini memberikan gambaran seperti apa pergerakan feminisme gelombang pertama di Amerika. Isu yang diusung waktu itu adalah hak pilih perempuan dan isu hak tenaga kerja perempuan. Mereka begitu gencar memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam pemerintahan. Hal ini menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada pembentukan kebijakan yang tidak lagi diskriminatif.

Bayangkan, pada waktu itu pembuat kebijakan semuanya laki-laki, perempuan diprovokasi untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, perempuan kelas menengah diarahkan untuk menjadi ignoran dan tidak perlu mendukung gerakan, buruh perempuan mendapatkan gaji lebih rendah daripada buruh laki-laki, bahkan sampai fasilitas mendasar seperti tangga darurat kebakaran pun tidak disediakan di tiap-tiap pabrik.

Proses gerakan penuh dengan dinamika. Sesama aktifis perempuan saling tidak percaya. Sesama perempuan saling menjegal demi mendapatkan kedudukan politik. Timbul rasa pesimis apakah keterwakilan perempuan di pemerintahan akan berpengaruh ke kesejahteraan masyarakat. Belum lagi diskriminasi rasial di Amerika yang menahun membuat feminist kulit hitam sempat meragukan ketulusan feminist kulit putih. Hingga pada akhirnya solidaritas terbangun. Yeah, politic sucks tapi film ini memberikan gambaran yang sangat informatif dan menarik mengenai perjuangan para feminist dalam upaya pembentukan kebijakan atau aturan hukum yang adil bagi semua orang tanpa kecuali.

Dua pemeran utama dalam film ini yaitu Alice Paul diperankan oleh Hilary Swank dan Lucy Burns yang diperankan oleh Frances O’Connor merupakan feminist muda yang rebel, kreatif, ekspresif dan ngga pernah takut terhadap apapun bahkan menentang “feminist senior”. Alice sempat berkata bahwa dia ngga mau melawan sesama perempuan tapi keadaan jadi semakin sulit karena feminist muda terus ditekan oleh kaum konservatif. Alice dan kawan-kawan memilih lepas dan mendirikan NWP (National Woman’s Party).

Hal menarik lainnya, mungkin hal ini juga sempat dialami oleh perempuan yang berjuang di isu feminisme yaitu persoalan menghadapi percintaan dan masalah personal. Lucy ingin menyerah dari perjuangan karena khawatir dengan usianya. Lucy berpikir lebih baik menyudahi perjuangan kemudian menikah dan memiliki banyak anak. Alice pun memiliki kekhawatiran yang hampir sama, apakah ada laki-laki yang mau menerima diri Alice beserta ideologi dan perjuangannya. Inez, sang Joan Of Arc, tiba-tiba mengundurkan diri karena merasa sangat lelah dengan perjuangan yang terasa ngga-ada-habisnya. Ini memang “huft” banget. Tapi saudari yang sebenarnya adalah saudari yang saling menguatkan, saling mendukung, saling mengingatkan tujuan pergerakan. Mereka bisa bangkit lagi dan mantap meneruskan perjuangan. Terharu.

Ngga ada perjuangan yang sia-sia. Perjuangan Alice, Lucy dan kawan-kawannya di NWP terbayar dengan Amandemen ke-19 Konstitusi Amerika Serikat tahun 1920 yang memberikan hak pilih kepada perempuan. Walaupun konstitusi itu harus dibayar dengan perjuangan berat dan penganiayaan yang diterima oleh Alice. Alice dan kawan-kawan sempat dijebloskan ke penjara dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum atas aksi yang dilakukannya di depan Gedung Putih.

Perjuangan tidak berhenti di gelombang pertama karena ada gelombang-gelombang baru yang akan terus bergerak melawan arus patriarki. Kini kita sudah menemukan keadaan dimana perempuan tidak dilarang sekolah, perempuan memiliki hak memilih dan dipilih, pelarangan perkawinan anak, perbaikan fasilitas kesehatan, pelarangan female genital mutilation atau sunat perempuan, penghargaan yang sama kepada anak perempuan karena jaman dulu bayi perempuan banyak dibunuh karena dianggap tidak berguna, kesetaraan hak ketenagakerjaan antara perempuan dan laki-laki, berakhirnya perbudakan, persamaan hak untuk LGBTIQ, pengakuan otonomi atas tubuhnya sendiri, dsb. Namun, pada kenyataannya di berbagai daerah dengan kultur patriarki yang kuat, masih ada praktik-praktif diskriminatif dan tidak berperikemanusiaan.

Film ini memang menarik banget. Film ini menyajikan sejarah yang penting. Recommended!




 

blogger templates | Make Money Online